Cek Yield Sebelum Beli: 25 Lot × DPS Rp450
2.500 lembar × Rp450 = Rp1,125 jt bruto; pajak Rp112.500; bersih Rp1.012.500; yield 15% di harga Rp3.000/lembar — bandingkan dengan deposito sebelum beli.
Hasil. Dividen Bersih Diterima pada skenario ini adalah Rp1.012.500. Artinya, dengan 25 lot dan DPS Rp450, dividen brutomu Rp1.125.000 dipotong PPh final 10% = Rp112.500 — bersih diterima Rp1.012.500, dan dividend yield 15,00% terhadap harga per lembar Rp3.000. Ingat: beli sebelum cum-date agar namamu masuk daftar pemegang hak dividen — beli di ex-date sudah tidak dapat dividen periode ini.
Cara hitung. Apa ini — Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang sahamnya, biasanya dibayar dalam rupiah per saham (DPS — dividend per share). Kalkulator ini menjawab tiga pertanyaan yang selalu muncul bersamaan: berapa dividen bruto yang kamu dapat dari lot yang dimiliki, berapa yang dipotong pajak, dan berapa imbal hasilnya dibanding harga saham (dividend yield). Cara kerja — Kamu masukkan jumlah lot, DPS, dan harga per lembar saham. Kalkulator mengalikan lot dengan 100 (1 lot = 100 saham menurut ketentuan BEI) lalu dengan DPS untuk mendapatkan dividen bruto. Pajaknya: 10% PPh final untuk wajib pajak orang pribadi, atau 15% PPh 23 untuk wajib pajak badan dalam negeri. Dividend yield dihitung dari DPS dibagi harga per lembar — misalnya DPS Rp500 di harga Rp5.000 berarti yield 10%. Kesalahan umum — Yang paling sering keliru adalah waktu beli: hanya pemegang saham yang tercatat sebelum ex-date yang berhak atas dividen. Cum-date adalah hari terakhir membeli saham dan masih kebagian dividen; ex-date adalah hari pertama membeli dan sudah TIDAK dapat dividen. Karena itu dividen tidak bisa 'dicuri' dengan membeli sehari sebelumnya — di pagi ex-date, harga pembukaan saham umumnya sudah turun sebesar DPS. Kesalahan kedua: menilai yield dari DPS besar tanpa melihat harganya — DPS Rp1.000 di harga Rp50.000 (yield 2%) jauh lebih kecil hasilnya daripada DPS Rp500 di harga Rp5.000 (yield 10%). Rincian: Dividen bruto (2500 lembar × Rp450) Rp1.125.000; PPh Final Dividen 10% (dipotong) Rp112.500; Dividen bersih diterima Rp1.012.500.
Aturan. Perhitungan di atas mengacu pada UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat (2) huruf c (PPh final dividen orang pribadi 10%); UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 23 (PPh 23 dividen kepada badan dalam negeri 15%); PP No. 19 Tahun 2009; ketentuan BEI — 1 lot = 100 saham (terverifikasi 2026-10-19). Coba ubah angkanya di kalkulator Kalkulator Dividen Saham & Dividend Yield.
Data terverifikasi. Dasar hukum: UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat (2) huruf c (PPh final dividen orang pribadi 10%); UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 23 (PPh 23 dividen kepada badan dalam negeri 15%); PP No. 19 Tahun 2009; ketentuan BEI — 1 lot = 100 saham · diverifikasi 2026-10-19
Dividen Bersih Diterima
Rp1.012.500
Dengan 25 lot dan DPS Rp450, dividen brutomu Rp1.125.000 dipotong PPh final 10% = Rp112.500 — bersih diterima Rp1.012.500, dan dividend yield 15,00% terhadap harga per lembar Rp3.000. Ingat: beli sebelum cum-date agar namamu masuk daftar pemegang hak dividen — beli di ex-date sudah tidak dapat dividen periode ini.
💡 Fakta Mengejutkan dari Angkamu
💡 Dividen bruto Rp1.125.000 dipotong PPh 10,0% = Rp112.500 — bersih Rp1.012.500 dengan yield 15,0%.
Hasil Hitungan
| + Dividen bruto (2500 lembar × Rp450) | Rp1.125.000 | 100,0% |
| − PPh Final Dividen 10% (dipotong) | Rp112.500 | 10,0% |
| Dividen bersih diterima | Rp1.012.500 | 90,0% |
| Dividend yield (15,00%) | Rp0 |
+ Dividen bruto (2500 lembar × Rp450)
Rp1.125.000
− PPh Final Dividen 10% (dipotong)
Rp112.500
Dividen bersih diterima
Rp1.012.500
Dividend yield (15,00%)
Rp0
100% Gratis.
Lihat Cara Hitung & Aturan Resminya
Jumlah saham = Lot × 100 lembar Dividen Bruto = Jumlah saham × DPS Pajak Dividen OP = 10% × Dividen Bruto (PPh final) Pajak Dividen Badan = 15% × Dividen Bruto (PPh 23) Dividen Bersih = Dividen Bruto − Pajak Dividen Dividend Yield = DPS ÷ Harga per Lembar
- Jumlah saham = 25 lot × 100 lembar = 2500 lembar
- Dividen bruto = 2500 lembar × Rp450 = Rp1.125.000
- Pajak dividen (PPh final orang pribadi 10%) = Rp1.125.000 × 0.1 = Rp112.500
- Dividen bersih = Rp1.125.000 − Rp112.500 = Rp1.012.500
- Dividend yield = Rp450 ÷ Rp3.000 = 15,00%
Asumsi & Batasan
- Tarif PPh final dividen orang pribadi 10% dibaca dari data referensi pajak-pasal17-final.json (UU 36/2008 Pasal 17 ayat 2c / PP 19/2009); tarif PPh 23 dividen badan 15% dan konstanta 1 lot = 100 saham dibaca dari dividen-saham.json — bukan hardcode di kalkulator.
- Jalur badan memodelkan PPh 23 15% untuk dividen kepada wajib pajak badan dalam negeri. Dividen antar badan domestik dengan kepemilikan >= 25% dikecualikan PPh (UU 36/2008 Pasal 17 ayat 3 huruf c) — kasus itu TIDAK dimodelkan; konsultasikan ke konsultan pajak.
- Dividend yield dihitung sederhana dari DPS periode ini dibagi harga per lembar yang kamu masukkan. Masukkan harga per lembar yang relevan untukmu (misalnya harga belimu atau harga saat pengumuman) — yield akan berbeda kalau harga berubah.
- Kalkulator ini untuk dividen tunai dalam negeri. Dividen saham (dalam bentuk saham), dividen luar negeri, dan dividen interim punya perlakuan pajak berbeda.
- Angka DPS dan harga adalah contoh yang kamu masukkan — verifikasi DPS resmi dari pengumuman emiten (RUPS) sebelum memakai hasilnya untuk keputusan beli.
Pertanyaan Umum
Saya punya 10 lot, DPS Rp500 — berapa dividen yang saya terima?
10 lot = 1.000 lembar × Rp500 = Rp500 ribu bruto. Dipotong PPh final 10% (Rp50 ribu), jadi bersih kamu terima Rp450 ribu. Kalau harga saham Rp5.000/lembar, dividend yield-nya 10%.
Apa itu dividend yield dan berapa yang dianggap bagus?
Dividend yield = DPS ÷ harga per lembar — ukuran 'balik modal dividen' per tahun. Tidak ada angka bagus universal: bandingkan dengan bunga deposito dan SBN saat ini, serta cek apakah DPS-nya stabil dari tahun ke tahun.
Kenapa harga saham turun setelah pembagian dividen?
Di pagi ex-date, harga pembukaan saham umumnya sudah turun sekitar sebesar DPS — kas perusahaan berkurang sebesar dividen yang dibagikan, jadi nilainya ikut turun. Itu normal, bukan rugi mendadak.
Beda cum-date dan ex-date itu apa?
Cum-date adalah batas akhir membeli saham agar masih tercatat sebagai penerima dividen. Ex-date adalah hari pertama beli yang sudah tidak kebagian dividen — karena daftar pemegang saham dikunci berdasarkan penyelesaian transaksi (settlement) beberapa hari sebelumnya.
Saya beli saham di ex-date, kenapa tidak dapat dividen?
Karena namamu belum masuk daftar pemegang saham pada recording date — penyelesaian transaksi (settlement) butuh beberapa hari setelah pembelian. Kalau mau dapat dividen, beli paling lambat di cum-date.
Dividen yang diterima perusahaan (badan) juga 10%?
Tidak — dividen kepada wajib pajak badan dalam negeri dikenai PPh 23 sebesar 15%. Pengecualiannya: kepemilikan >= 25% justru dibebaskan dari PPh menurut UU 36/2008 Pasal 17 ayat (3) huruf c, dan itu tidak dihitung kalkulator ini.
Dividen Bersih Diterima
Rp1.012.500