🎉 100% GRATIS SELAMANYA

duid.tech

Portofolio 50 Lot × DPS Rp300

5.000 lembar × Rp300 = Rp1,5 jt bruto; pajak Rp150 rb; bersih Rp1,35 jt; yield 12% di harga Rp2.500/lembar.

Hasil. Dividen Bersih Diterima pada skenario ini adalah Rp1.350.000. Artinya, dengan 50 lot dan DPS Rp300, dividen brutomu Rp1.500.000 dipotong PPh final 10% = Rp150.000 — bersih diterima Rp1.350.000, dan dividend yield 12,00% terhadap harga per lembar Rp2.500. Ingat: beli sebelum cum-date agar namamu masuk daftar pemegang hak dividen — beli di ex-date sudah tidak dapat dividen periode ini.

Cara hitung. Apa ini — Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang sahamnya, biasanya dibayar dalam rupiah per saham (DPS — dividend per share). Kalkulator ini menjawab tiga pertanyaan yang selalu muncul bersamaan: berapa dividen bruto yang kamu dapat dari lot yang dimiliki, berapa yang dipotong pajak, dan berapa imbal hasilnya dibanding harga saham (dividend yield). Cara kerja — Kamu masukkan jumlah lot, DPS, dan harga per lembar saham. Kalkulator mengalikan lot dengan 100 (1 lot = 100 saham menurut ketentuan BEI) lalu dengan DPS untuk mendapatkan dividen bruto. Pajaknya: 10% PPh final untuk wajib pajak orang pribadi, atau 15% PPh 23 untuk wajib pajak badan dalam negeri. Dividend yield dihitung dari DPS dibagi harga per lembar — misalnya DPS Rp500 di harga Rp5.000 berarti yield 10%. Kesalahan umum — Yang paling sering keliru adalah waktu beli: hanya pemegang saham yang tercatat sebelum ex-date yang berhak atas dividen. Cum-date adalah hari terakhir membeli saham dan masih kebagian dividen; ex-date adalah hari pertama membeli dan sudah TIDAK dapat dividen. Karena itu dividen tidak bisa 'dicuri' dengan membeli sehari sebelumnya — di pagi ex-date, harga pembukaan saham umumnya sudah turun sebesar DPS. Kesalahan kedua: menilai yield dari DPS besar tanpa melihat harganya — DPS Rp1.000 di harga Rp50.000 (yield 2%) jauh lebih kecil hasilnya daripada DPS Rp500 di harga Rp5.000 (yield 10%). Rincian: Dividen bruto (5000 lembar × Rp300) Rp1.500.000; PPh Final Dividen 10% (dipotong) Rp150.000; Dividen bersih diterima Rp1.350.000.

Aturan. Perhitungan di atas mengacu pada UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat (2) huruf c (PPh final dividen orang pribadi 10%); UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 23 (PPh 23 dividen kepada badan dalam negeri 15%); PP No. 19 Tahun 2009; ketentuan BEI — 1 lot = 100 saham (terverifikasi 2026-10-19). Coba ubah angkanya di kalkulator Kalkulator Dividen Saham & Dividend Yield.

Masukkan Data Kamu

Jumlah LotBerapa lot saham yang kamu miliki di emiten ini (1 lot = 100 lembar).
Dividen per Saham / DPS (Rp per lembar)
Terbilang: tiga ratus rupiahDividen per lembar yang diumumkan emiten untuk periode ini.
Harga per Lembar (untuk Yield)
Terbilang: dua ribu lima ratus rupiahHarga satu lembar saham (misalnya harga belimu). Isi 0 jika tidak ingin menghitung yield.
Jenis Investor

Contoh Cepat

Dividen Bersih Diterima

Rp1.350.000

Dengan 50 lot dan DPS Rp300, dividen brutomu Rp1.500.000 dipotong PPh final 10% = Rp150.000 — bersih diterima Rp1.350.000, dan dividend yield 12,00% terhadap harga per lembar Rp2.500. Ingat: beli sebelum cum-date agar namamu masuk daftar pemegang hak dividen — beli di ex-date sudah tidak dapat dividen periode ini.

💡 Fakta Mengejutkan dari Angkamu

💡 Dividen bruto Rp1.500.000 dipotong PPh 10,0% = Rp150.000 — bersih Rp1.350.000 dengan yield 12,0%.

Hasil Hitungan

+ Dividen bruto (5000 lembar × Rp300)

Rp1.500.000

− PPh Final Dividen 10% (dipotong)

Rp150.000

Dividen bersih diterima

Rp1.350.000

Dividend yield (12,00%)

Rp0

Dividen bruto (5000 lembar × Rp300)PPh Final Dividen 10% (dipotong)
Threads X WhatsApp

100% Gratis.

Lihat Cara Hitung & Aturan Resminya

Jumlah saham = Lot × 100 lembar Dividen Bruto = Jumlah saham × DPS Pajak Dividen OP = 10% × Dividen Bruto (PPh final) Pajak Dividen Badan = 15% × Dividen Bruto (PPh 23) Dividen Bersih = Dividen Bruto − Pajak Dividen Dividend Yield = DPS ÷ Harga per Lembar

  1. Jumlah saham = 50 lot × 100 lembar = 5000 lembar
  2. Dividen bruto = 5000 lembar × Rp300 = Rp1.500.000
  3. Pajak dividen (PPh final orang pribadi 10%) = Rp1.500.000 × 0.1 = Rp150.000
  4. Dividen bersih = Rp1.500.000 − Rp150.000 = Rp1.350.000
  5. Dividend yield = Rp300 ÷ Rp2.500 = 12,00%
Asumsi & Batasan
  • Tarif PPh final dividen orang pribadi 10% dibaca dari data referensi pajak-pasal17-final.json (UU 36/2008 Pasal 17 ayat 2c / PP 19/2009); tarif PPh 23 dividen badan 15% dan konstanta 1 lot = 100 saham dibaca dari dividen-saham.json — bukan hardcode di kalkulator.
  • Jalur badan memodelkan PPh 23 15% untuk dividen kepada wajib pajak badan dalam negeri. Dividen antar badan domestik dengan kepemilikan >= 25% dikecualikan PPh (UU 36/2008 Pasal 17 ayat 3 huruf c) — kasus itu TIDAK dimodelkan; konsultasikan ke konsultan pajak.
  • Dividend yield dihitung sederhana dari DPS periode ini dibagi harga per lembar yang kamu masukkan. Masukkan harga per lembar yang relevan untukmu (misalnya harga belimu atau harga saat pengumuman) — yield akan berbeda kalau harga berubah.
  • Kalkulator ini untuk dividen tunai dalam negeri. Dividen saham (dalam bentuk saham), dividen luar negeri, dan dividen interim punya perlakuan pajak berbeda.
  • Angka DPS dan harga adalah contoh yang kamu masukkan — verifikasi DPS resmi dari pengumuman emiten (RUPS) sebelum memakai hasilnya untuk keputusan beli.

Pertanyaan Umum

Saya punya 10 lot, DPS Rp500 — berapa dividen yang saya terima?

10 lot = 1.000 lembar × Rp500 = Rp500 ribu bruto. Dipotong PPh final 10% (Rp50 ribu), jadi bersih kamu terima Rp450 ribu. Kalau harga saham Rp5.000/lembar, dividend yield-nya 10%.

Apa itu dividend yield dan berapa yang dianggap bagus?

Dividend yield = DPS ÷ harga per lembar — ukuran 'balik modal dividen' per tahun. Tidak ada angka bagus universal: bandingkan dengan bunga deposito dan SBN saat ini, serta cek apakah DPS-nya stabil dari tahun ke tahun.

Kenapa harga saham turun setelah pembagian dividen?

Di pagi ex-date, harga pembukaan saham umumnya sudah turun sekitar sebesar DPS — kas perusahaan berkurang sebesar dividen yang dibagikan, jadi nilainya ikut turun. Itu normal, bukan rugi mendadak.

Beda cum-date dan ex-date itu apa?

Cum-date adalah batas akhir membeli saham agar masih tercatat sebagai penerima dividen. Ex-date adalah hari pertama beli yang sudah tidak kebagian dividen — karena daftar pemegang saham dikunci berdasarkan penyelesaian transaksi (settlement) beberapa hari sebelumnya.

Saya beli saham di ex-date, kenapa tidak dapat dividen?

Karena namamu belum masuk daftar pemegang saham pada recording date — penyelesaian transaksi (settlement) butuh beberapa hari setelah pembelian. Kalau mau dapat dividen, beli paling lambat di cum-date.

Dividen yang diterima perusahaan (badan) juga 10%?

Tidak — dividen kepada wajib pajak badan dalam negeri dikenai PPh 23 sebesar 15%. Pengecualiannya: kepemilikan >= 25% justru dibebaskan dari PPh menurut UU 36/2008 Pasal 17 ayat (3) huruf c, dan itu tidak dihitung kalkulator ini.

Dividen Bersih Diterima

Rp1.350.000

Lihat Rincian ↓