🎉 100% GRATIS SELAMANYA

duid.tech

Bebas Cicilan Sepenuhnya

Semua cicilan Rp0 — DTI 0% dan status aman, dengan kapasitas penuh sebesar 30% pendapatan.

Hasil. Rasio Cicilan terhadap Pendapatan (DTI) pada skenario ini adalah 0%. Artinya, status: Aman. DTI kamu 0,00% — di bawah ambang aman 30,00%. Kabar baik: total cicilan Rp0 masih wajar dibanding pendapatan bersih Rp10.000.000. Kamu masih punya ruang cicilan tambahan hingga Rp3.000.000 sebelum menyentuh batas aman.

Cara hitung. Rasio cicilan aman — di dunia keuangan disebut Debt-to-Income Ratio (DTI) — adalah satu angka sederhana: berapa persen pendapatan bersihmu yang habis untuk membayar cicilan setiap bulan. Angka inilah yang sebenarnya dilihat bank saat kamu mengajukan kredit, bukan seberapa besar gajimu. Gaji Rp20 juta dengan cicilan Rp8 juta (DTI 40%) terlihat jauh lebih berisiko di mata bank dibanding gaji Rp8 juta dengan cicilan Rp1 juta (DTI 12,5%). Cara kerjanya: isi pendapatan bersih per bulanmu, lalu masukkan SEMUA cicilan — KPR, KTA, kendaraan, paylater, dan pembayaran minimum kartu kredit. Kalkulator menjumlahkan semuanya, membaginya dengan pendapatan bersih, dan menunjukkan statusmu: aman (di bawah ambang aman), waspada (antara ambang aman dan waspada), atau bahaya (di atas ambang waspada). Kamu juga dapat mengubah sendiri ambang aman dan waspadanya, karena 30%/40% hanyalah praktik umum perbankan, bukan aturan baku. Kesalahan paling umum: hanya menghitung KPR dan lupa paylater serta minimum kartu kredit — padahal bank menghitung semuanya. Kesalahan umum kedua: memakai pendapatan kotor (sebelum potongan) sebagai pembagi, yang membuat rasio terlihat lebih kecil dari kenyataannya — kalkulator ini meminta pendapatan bersih justru karena itu. Kesalahan ketiga: mengira zona waspada itu aman-aman saja; waspada berarti sedikit lagi bahaya, dan cicilan baru apa pun sebaiknya ditahan.

Aturan. Perhitungan di atas mengacu pada Tidak ada aturan resmi OJK/BI yang menetapkan satu batas baku nasional rasio cicilan terhadap pendapatan untuk semua jenis kredit. Angka yang dipakai bank di Indonesia umumnya adalah debt burden ratio (DBR) maksimal 30–40% dari penghasilan bulanan sebagai patokan kelayakan kredit (praktik perbankan, bukan undang-undang). Satu-satunya batas resmi yang ada adalah khusus pinjol/P2P lending: SEOJK 19/2025 (turunan POJK 40/2024) membatasi rasio utang terhadap penghasilan maksimal 40% pada 2025 dan diperketat menjadi 30% mulai 2026. Ambang default kalkulator ini (aman <30%, waspada 30–40%, bahaya >40%) mengikuti praktik umum perbankan tersebut dan bisa kamu ubah sendiri. (terverifikasi 2026-10-19). Coba ubah angkanya di kalkulator Kalkulator Rasio Cicilan Aman.

Masukkan Data Kamu

Pendapatan Bersih per Bulan (Rp)
Terbilang: sepuluh juta rupiahPenghasilan setelah dipotong pajak, BPJS, dan potongan rutin lain. Bukan gaji kotor — memakai gaji kotor membuat rasio terlihat lebih kecil dari kenyataannya.
Cicilan KPR per Bulan (Rp)
Angsuran KPR/KPA/KPR syariah tiap bulan. Isi 0 bila tidak punya.
Cicilan Kendaraan per Bulan (Rp)
Angsuran mobil/motor atau leasing tiap bulan. Isi 0 bila tidak punya.
Cicilan Paylater/Pinjol per Bulan (Rp)
Total tagihan paylater dan pinjol yang wajib dibayar bulan ini. Ini yang paling sering terlupa dihitung — jangan dilewatkan.
Ambang Aman (%) (%)Di bawah angka ini statusmu Aman. Default 30% mengikuti praktik umum perbankan — bisa kamu ubah.

Contoh Cepat

Rasio Cicilan terhadap Pendapatan (DTI)

0%

Status: Aman. DTI kamu 0,00% — di bawah ambang aman 30,00%. Kabar baik: total cicilan Rp0 masih wajar dibanding pendapatan bersih Rp10.000.000. Kamu masih punya ruang cicilan tambahan hingga Rp3.000.000 sebelum menyentuh batas aman.

Hasil Hitungan

Pendapatan bersih per bulan

Rp10.000.000

− Cicilan KPR

Rp0

− Cicilan KTA

Rp0

− Cicilan kendaraan

Rp0

− Cicilan paylater

Rp0

− Minimum kartu kredit

Rp0

Total cicilan per bulan

Rp0

Sisa kapasitas cicilan yang masih aman

Rp3.000.000

Cicilan KPRCicilan KTACicilan kendaraanCicilan paylaterMinimum kartu kredit
Threads X WhatsApp

100% Gratis.

Lihat Cara Hitung & Aturan Resminya

totalCicilan = cicilanKPR + cicilanKTA + cicilanKendaraan + paylater + minimumKartuKredit DTI = totalCicilan ÷ pendapatanBersih × 100% status = Aman bila DTI < ambangAman; Waspada bila ambangAman ≤ DTI ≤ ambangWaspada; Bahaya bila DTI > ambangWaspada sisaKapasitas = pendapatanBersih × ambangAman − totalCicilan

  1. Total cicilan = Rp0 + Rp0 + Rp0 + Rp0 + Rp0 = Rp0.
  2. DTI = Total cicilan ÷ Pendapatan × 100% = Rp0 ÷ Rp10.000.000 × 100% = 0,00%.
  3. Status = 0,00% < 30,00% → zona Aman.
  4. Sisa kapasitas aman = Rp10.000.000 × 30,00% − Rp0 = Rp3.000.000.
Asumsi & Batasan
  • Semua cicilan dianggap jatuh tempo setiap bulan dan besarnya sesuai yang kamu isi — kalkulator tidak memodelkan cicilan yang baru dimulai di tengah bulan atau berakhir sebelum setahun.
  • Pendapatan yang dipakai harus pendapatan bersih (setelah potongan pajak, BPJS, dan potongan rutin lain), bukan gaji kotor — memakai gaji kotor membuat rasio terlihat lebih aman dari kenyataannya.
  • Untuk kartu kredit, yang dihitung adalah pembayaran minimum bulanan — bukan total tagihan — karena itu kewajiban wajib bayarmu setiap bulan.
  • Ambang 30%/40% adalah praktik umum perbankan Indonesia, bukan aturan resmi OJK/BI; kamu bebas mengubahnya sesuai target pribadimu.
  • Kalkulator ini tidak menilai bunga, tenor sisa, atau agunan tiap utang — dua orang dengan DTI sama bisa punya risiko berbeda bila salah satu menanggung bunga 2% per bulan.
  • Bila pendapatan Rp0, DTI tidak terdefinisi (bukan 0%): kalkulator meminta kamu mengisi pendapatan dulu, bukan memaksa hasil.

Pertanyaan Umum

Apa itu DTI dan kenapa bank peduli?

DTI (debt-to-income ratio) adalah total cicilan bulanan dibagi pendapatan bersih, dalam persen. Bank memakai ini — bukan besar gaji — untuk menilai apakah kamu masih sanggup membayar cicilan baru. DTI rendah berarti arus kasmu masih longgar; DTI tinggi berarti risiko gagal bayar besar, sehingga pengajuan kredit sering ditolak walau gajimu besar.

Berapa DTI yang dianggap aman?

Tidak ada aturan baku nasional, tetapi praktik umum perbankan Indonesia memakai batas 30–40% dari penghasilan. Di bawah 30% umumnya dianggap sehat, 30–40% masih bisa diterima dengan catatan, di atas 40% berisiko. Satu-satunya batas resmi adalah khusus pinjol (SEOJK 19/2025): maksimal 30% mulai 2026. Kamu bisa mengubah sendiri ambang di kalkulator ini.

Kenapa harus pakai pendapatan bersih, bukan gaji kotor?

Karena yang benar-benar bisa kamu pakai membayar cicilan adalah uang setelah potongan. Memakai gaji kotor membuat pembagi lebih besar sehingga rasio terlihat lebih kecil — DTI 30% dari gaji kotor bisa jadi 40% dari gaji bersih. Itu menipu diri sendiri.

Apakah minimum kartu kredit harus dihitung?

Ya. Minimum kartu kredit adalah kewajiban wajib bayar tiap bulan, dan bank menghitungnya sebagai cicilan. Banyak orang kaget DTI-nya melonjak setelah memasukkan angka ini — padahal memang itu gambaran jujurnya.

DTI saya 0% — apakah itu ideal?

DTI 0% berarti tidak ada cicilan sama sekali, yang dari sisi rasio tentu paling aman. Tapi DTI rendah bukan berarti keuanganmu sehat secara keseluruhan — dana darurat, tabungan, dan investasi juga menentukan. DTI hanya mengukur beban cicilan, bukan kesehatan finansial menyeluruh.

DTI saya di zona bahaya, apa yang harus dilakukan pertama?

Tiga langkah berurutan: (1) jangan tambah cicilan apa pun — termasuk paylater baru; (2) lunasi dulu utang dengan bunga tertinggi (biasanya paylater/kartu kredit, bukan KPR); (3) susun ulang anggaran agar cicilan turun di bawah ambang aman sebelum menambah komitmen baru.

Rasio Cicilan terhadap Pendapatan (DTI)

0%

Lihat Rincian ↓