🎉 100% GRATIS SELAMANYA

duid.tech

⚡ JAWABAN CEPAT

Kupon neto obligasi FR Rp5.850.000 per tahun sedikit di atas SBN ritel Rp5.625.000 karena selisih tarif contoh, tetapi perbedaan sesungguhnya ada di pasar sekunder: pada yield 6% harganya Rp103.719.000 (premium), pada 7% menjadi Rp96.447.000, dan pada 8% jatuh ke Rp89.807.000 — rentang Rp13,9 juta yang tidak dialami SBN ritel non-tradable.

Kupon neto FR per tahun
Rp5.850.000
Harga wajar yield 6%
Rp103.719.000
Harga wajar yield 8%
Rp89.807.000

Hitung kasusmu →

Obligasi FR vs SBN Ritel: Sama-Sama Surat Utang Negara, Beda Nasib Pajak & Likuiditas

Terbit 19 Oktober 2026 · Angka dihitung ulang otomatis dari mesin kalkulator & data referensi duid.tech setiap halaman diperbarui.

Ilustrasi dua sertifikat surat utang negara: obligasi FR dengan grafik harga bergerak dan SBN ritel dengan kalender masa penawaran

Dua-duanya diterbitkan negara. Dua-duanya membayar kupon tetap. Dua-duanya dijamin APBN. Tetapi kalau kamu membeli obligasi FR di pasar sekunder hari ini lalu menjualnya bulan depan, hasil yang kamu bawa pulang bisa berbeda jauh dari tetanggamu yang memegang SBN ritel sampai jatuh tempo — padahal kuponnya sama-sama dipotong pajak 10,00%. Kok bisa?

Jawabannya ada di satu perbedaan fundamental: obligasi FR hidup di pasar, harganya bernapas mengikuti yield; SBN ritel hidup di kalender penawaran, nilainya nyaris tidak bergerak tetapi aksesnya terbatas. Panduan ini membedah keduanya dengan modal yang sama, Rp100.000.000, memakai contoh seri FR ilustratif berkupon 6,50% tenor 10 tahun dan contoh tarif kupon SBN ritel 6,25% — semua berlabel jelas sebagai contoh, bukan janji hasil.

Skenario yang Dipakai (Asumsi Berlabel)

Supaya perbandingannya jujur, semua angka di bawah memakai asumsi yang sama dan dilabeli:

  • Modal Rp100.000.000 untuk kedua instrumen.
  • Obligasi FR: kupon 6,50% — Contoh seri FR (ilustrasi, bukan seri aktif tertentu); yield pasar 7,00% — asumsi awal yang bisa berubah; tenor 10 tahun; WP dalam negeri (PPh final 10,00% dari data referensi).
  • SBN ritel: kupon 6,25% — Contoh tarif; horizon 12 bulan; PPh final 10,00%.
  • Catatan transparansi: formula pembanding SBN memakai akumulasi sederhana (tanpa reinvestasi kupon), sama seperti yang dipakai di panduan SBN ritel vs deposito.

Tabel 1: FR vs SBN Ritel — Angka dan Fiturnya

Perhatikan: tarif kupon contohnya memang berbeda (6,50% vs 6,25%) karena keduanya adalah contoh seri/tarif yang berbeda — yang dibandingkan adalah mekanikanya dengan modal yang sama:

Aspek Obligasi FR (pasar sekunder) SBN Ritel
Kupon neto/tahun (contoh) Rp5.850.000 (6,50% − PPh 10,00%) Rp5.625.000 per 12 bulan (6,25% − PPh 10,00%, contoh tarif)
Pajak kupon (WP DN) Sama-sama 10,00% PPh final — untuk obligasi berdasar PP 16/2009 jo. PP 100/2013 jo. PP 91/2021 Pasal 2; SBN ritel juga 10,00% (fakta produk)
Kapan bisa dibeli Kapan saja di pasar sekunder via sekuritas Hanya saat masa penawaran yang dibuka pemerintah beberapa kali setahun
Tradabilitas Bebas diperdagangkan — bisa dijual kapan saja di harga pasar ORI/SR: tradable setelah holding period · SBR/ST: non-tradable (ada early redemption sebagian)
Frekuensi kupon 2× setahun (tiap 6 bulan) — Rp2.925.000 per pembayaran pada contoh ini Bulanan untuk SBR/ST; bervariasi per seri
Risiko harga pasar Ada — bisa dijual di atas/di bawah nominal mengikuti yield pasar ORI/SR: ada setelah holding period · SBR/ST: nilai pokok tidak bergerak
Minimum Mulai ±Rp1 juta — bervariasi per sekuritas Mulai Rp1 juta (fakta produk)
Jaminan gagal bayar Sama-sama dijamin negara — keduanya surat utang pemerintah, pokok dan kupon dibayar dari APBN (fakta produk)

Dua baris yang paling sering disalahpahami: pajaknya sama (10,00%) dan jaminannya sama (negara). Jadi kalau ada yang bilang "FR lebih berisiko gagal bayar daripada ORI", itu keliru — keduanya surat utang pemerintah yang sama. Risiko yang benar-benar membedakan mereka adalah risiko harga pasar (FR selalu terpapar; SBN ritel hanya ORI/SR dan hanya setelah holding period) dan risiko akses (SBN ritel tidak bisa dibeli di luar masa penawaran).

Bedah Kupon FR: Dari Bruto ke Bersih

Untuk contoh seri FR ilustratif berkupon 6,50% dengan modal Rp100.000.000 sebagai WP dalam negeri:

  • Kupon bruto/tahun = Rp100.000.000 × 6,50% = Rp6.500.000
  • PPh final 10,00% = Rp6.500.000 × 10,00% = Rp650.000 (dipotong otomatis)
  • Kupon bersih/tahun = Rp5.850.000, dibayar Rp2.925.000 tiap 6 bulan
  • Total kupon bersih selama 10 tahun = Rp58.500.000 — ditambah pokok Rp100.000.000 kembali penuh saat jatuh tempo bila dipegang sampai akhir

Bandingkan dengan SBN ritel pada contoh tarif 6,25%: hasil neto 12 bulannya Rp5.625.000. Pada contoh ini FR unggul Rp225.000 per tahun — tetapi ingat, itu murni karena tarif kupon contohnya berbeda (6,50% vs 6,25%), bukan karena FR "lebih baik". Di dunia nyata, kupon seri FR yang beredar dan tarif SBN ritel tiap penerbitan bergerak mengikuti kondisi suku bunga — jangan membaca selisih ini sebagai keunggulan permanen.

Tabel 2: "Beda Nasib Likuiditas" — Harga Wajar FR Bergerak Mengikuti Yield

Inilah inti perbedaan kedua instrumen. Kupon FR 6,50% tetap, tetapi harga wajarnya — nilai kini seluruh kupon + pokok yang didiskonto pada yield pasar — bergerak setiap yield berubah. Dengan kupon tetap 6,50% dan tenor 10 tahun:

Yield pasar Harga wajar Harga per 100 nominal Status Estimasi yield bersih
6,00% Rp103.719.369 103,72% Premium Rp3.719.369 5,640%
7,00% Rp96.446.899 96,45% Diskon Rp3.553.101 6,066%
8,00% Rp89.807.255 89,81% Diskon Rp10.192.745 6,514%

Baca polanya: saat yield pasar 6,00% (di bawah kupon), harga wajarnya Rp103.719.369 — premium Rp3.719.369 di atas nominal karena pembeli rela membayar lebih untuk kupon yang lebih tinggi dari pasar. Saat yield naik ke 8,00%, harganya jatuh ke Rp89.807.255 — diskon Rp10.192.745. Selisih harga antara kedua skenario itu Rp13.912.114 — dari modal yang sama dan kupon yang sama, hanya karena yield pasar bergerak 2 poin.

Inilah "beda nasib likuiditas" yang dimaksud judul: pemegang FR yang butuh uang saat yield sedang tinggi terpaksa merealisasikan diskon bila menjual sebelum jatuh tempo — kuponnya tetap dibayar penuh, tetapi harga jualnya di bawah nominal. Sebaliknya, pemegang SBR/ST tidak menghadapi dilema ini sama sekali karena nilainya tidak diperdagangkan (tetapi ia juga tidak bisa menjualnya ke orang lain). ORI/SR berada di tengah: aman seperti SBN ritel saat dipegang, tetapi ikut bergerak seperti FR begitu diperdagangkan setelah holding period.

Jadi, Kapan Memilih yang Mana?

📈 …kamu aktif dan paham pasar

Pilih obligasi FR di pasar sekunder: bisa dibeli kapan saja via sekuritas (minimum mulai ±Rp1 juta, bervariasi per sekuritas), kupon 6,50% pada contoh ini dibayar 2× setahun, dan ada peluang capital gain bila yield turun setelah kamu beli. Syaratnya: siap menerima harga yang berfluktuasi dan jangan pakai dana darurat.

🗓️ …kamu sabar menunggu masa penawaran

Pilih SBN ritel saat pemerintah membuka penawaran: pajak kupon sama-sama 10,00%, jaminan sama-sama negara, minimum mulai Rp1 juta. Ambil ORI/SR bila ingin opsi jual di pasar sekunder setelah holding period; ambil SBR/ST bila yakin tidak butuh dananya sampai jatuh tempo dan ingin nilai yang tidak bergerak.

⚖️ …kamu ingin keduanya

Strategi yang umum dipakai: inti di SBN ritel (arus kupon stabil, nilai tenang) + satelit di FR sekunder (fleksibel dibeli kapan saja, peluang gain saat yield turun). Keduanya dijamin negara dan berpajak 10,00% — yang kamu diversifikasi bukan penerbitnya, melainkan perilaku harganya.

Coba Hitung Sendiri dengan Angka Kamu

Ganti nominal, kupon, yield pasar, dan tenornya dengan seri FR yang sedang kamu incar — kupon bersih, harga wajar, dan status premium/diskon langsung terhitung:

Butuh hitungan yang lebih spesifik? Buka kalkulator obligasi kupon FR untuk simulasi kupon dan harga wajar lengkap, kalkulator SBN ritel vs deposito untuk perbandingan hasil bersih setelah pajak, atau kalkulator deposito bersih bila kamu membandingkan dengan deposito bank.

Kesimpulan

Obligasi FR dan SBN ritel adalah saudara kandung: sama-sama surat utang negara, sama-sama dijamin APBN, sama-sama dikenai PPh final 10,00% atas kuponnya untuk WP dalam negeri. Yang membedakan mereka adalah nasibnya di tangan pemegang: FR memberi kebebasan penuh — beli kapan saja, jual kapan saja — dengan harga yang jujur mengikuti pasar (contoh: harga wajar bergerak dari Rp103.719.369 hingga Rp89.807.255 hanya karena yield bergeser dari 6,00% ke 8,00%); SBN ritel memberi ketenangan — nilai stabil dan kupon rutin — dengan harga berupa keterbatasan akses: hanya bisa dibeli saat masa penawaran, dan sebagian serinya tidak bisa diperdagangkan sama sekali.

Tidak ada yang mutlak lebih baik. Kalau kamu butuh fleksibilitas waktu beli dan paham risiko harga pasar, FR sekunder adalah jalannya. Kalau kamu mengutamakan ketenangan nilai dan disiplin menabung, tunggulah masa penawaran SBN ritel. Dan kalau kamu bisa melakukan keduanya — inti yang tenang, satelit yang lincah — kamu justru mengambil yang terbaik dari dua dunia yang penerbitnya sama.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah obligasi FR dijamin negara seperti SBN ritel?

Ya — dari sisi gagal bayar, keduanya sama amannya. Obligasi FR (Fixed Rate) adalah Surat Utang Negara yang diterbitkan pemerintah, dan SBN ritel (ORI, SR, SBR, ST) juga surat utang negara; pokok dan kuponnya dibayar dari APBN sesuai undang-undang. Bedanya bukan di keamanan penerbit, melainkan di akses beli dan likuiditas: FR diperdagangkan bebas di pasar sekunder, sedangkan SBN ritel punya masa penawaran dan sebagian serinya tidak bisa diperdagangkan.

Kenapa harga obligasi FR bisa di bawah nominal padahal kuponnya tetap dibayar penuh?

Karena harga pasar obligasi adalah nilai kini (present value) seluruh arus kas masa depan yang didiskonto pada yield pasar saat itu — bukan nilai kuponnya. Kupon 6,50% dalam contoh ini tetap dibayar penuh tiap 6 bulan sampai jatuh tempo, tetapi kalau yield pasar naik, pembeli baru menuntut imbal hasil lebih tinggi sehingga harga yang mereka mau bayar turun. Kalau kamu tahan sampai jatuh tempo, pokok Rp100.000.000 kembali penuh; kerugian harga pasar hanya terjadi kalau kamu menjual sebelum jatuh tempo.

Bisakah beli obligasi FR dan SBN ritel kapan saja?

Obligasi FR bisa dibeli kapan saja di pasar sekunder melalui sekuritas (minimum mulai ±Rp1 juta, bervariasi per sekuritas) — harganya mengikuti pasar hari itu. SBN ritel tidak: hanya bisa dibeli pada masa penawaran yang dibuka pemerintah beberapa kali setahun. Setelah itu, ORI dan SR bisa diperdagangkan di pasar sekunder setelah holding period, sedangkan SBR dan ST non-tradable (tidak bisa diperdagangkan) meski ada fasilitas early redemption sebagian.

Pajak kuponnya benar-benar sama 10%?

Untuk wajib pajak dalam negeri, ya: bunga/kupon obligasi — termasuk obligasi FR dan SBN ritel — dikenai PPh final 10% dari jumlah bruto (basis aturan: PP 16/2009 jo. PP 100/2013 jo. PP 91/2021 Pasal 2 untuk bunga obligasi). Pajak dipotong otomatis oleh pembayar kupon, jadi angka yang kamu terima sudah bersih. Catatan: tarif ini khusus untuk kupon/bunga; perlakuan pajak atas keuntungan jual-beli obligasi di pasar sekunder adalah ketentuan tersendiri.

Disclaimer

Seluruh angka dalam panduan ini adalah estimasi dengan asumsi berlabel (contoh seri FR ilustratif berkupon 6,50% — bukan seri aktif tertentu, yield pasar 7,00% sebagai asumsi awal, tenor 10 tahun, contoh tarif kupon SBN ritel 6,25%, formula SBN memakai akumulasi sederhana) untuk tujuan edukasi perbandingan — bukan nasihat keuangan, bukan rekomendasi investasi, dan bukan janji hasil. Harga dan yield obligasi di pasar sekunder berubah setiap hari; tarif SBN ritel mengikuti tiap penerbitan; ketentuan pajak mengikuti peraturan yang berlaku saat kamu membaca ini. duid.tech bukan penasihat keuangan berizin OJK. Selalu verifikasi ke prospektus resmi, sekuritas/mitra distribusi berizin, dan situs resmi DJPPR Kemenkeu serta OJK sebelum memutuskan.

🔥 Sedang Banyak Dibaca