SBN Ritel (ORI/SR/SBR) vs Deposito Bank Umum & Bank Digital (2026): Perbandingan Bunga Bersih Setelah Pajak 10% vs 20% & Jaminan LPS
Terbit 19 Oktober 2026 · Angka pada halaman ini dihitung ulang otomatis dari mesin kalkulator duid.tech dan data referensi terbaru (tingkat penjaminan LPS terverifikasi 2026-10-28) — bukan angka ketikan mati.
Punya dana menganggur Rp100.000.000 dan bingung menaruhnya di mana? Dua instrumen paling populer di Indonesia adalah SBN Ritel (Obligasi Negara Ritel/ORI, Sukuk Ritel/SR, Sukuk Tabungan/ST, Savings Bond Ritel/SBR) dan deposito — baik di bank umum besar maupun bank digital yang bunganya kelihatan menggoda. Keduanya aman di mata awam, tetapi angka yang keluar di buku tabungan bisa jauh berbeda: pajaknya tidak sama, jaminannya tidak sama, dan satu angka kecil bernama tingkat penjaminan LPS diam-diam bisa membuat simpanan ratusan juta rupiah tidak dijamin sama sekali.
Panduan ini membedah perbandingan ketiganya — SBN ritel, deposito bank umum, deposito bank digital — memakai satu modal yang sama, Rp100.000.000, dengan tarif kupon/bunga contoh yang beredar pada 2025–2026. Semua hitungan memakai hasil bersih setelah pajak final (karena membandingkan kupon/bunga kotor itu menipu), dan setiap angka dilabeli jelas sebagai contoh seri/tarif agar tidak ada yang menganggapnya janji pasti.
Hasil Bersih Tahun Pertama dengan Modal Rp100,00 juta
Ini tabel paling penting di panduan ini. Semua baris memakai modal Rp100.000.000 dan tarif contoh periode 2025–2026 — bukan ramalan masa depan:
| Instrumen | Tarif kotor contoh | Pajak final | Hasil neto/tahun | Rp netto thn-1 |
|---|---|---|---|---|
| SBN Ritel (ORI/SR/SBR) | 6,25/thn | 10% | 5,625% | Rp5.625.000 |
| Deposito bank umum | 3,5/thn | 20% | 2,8 | Rp2.800.000 |
| Deposito bank digital | 5,5/thn | 20% | 4,4 | Rp4.400.000 |
Baca barisnya seperti ini: kupon SBN 6,25% dipotong pajak final 10% menjadi 5,625% bersih — atau Rp5.625.000 per tahun untuk setiap Rp100,00 juta modal. Deposito bank umum dengan bunga 3,50% dipotong pajak final 20% tinggal 2,8 — hanya Rp2.800.000. Selisih hasil bersih tahun pertama antara SBN ritel dan deposito bank umum adalah Rp2.825.000 untuk setiap Rp100,00 juta modal — itu uang nyata yang hilang hanya karena salah memilih instrumen.
Perhatikan juga kolom pajak: deposito bank digital memang membukukan bunga kotor paling tinggi kedua (5,50%), tetapi setelah dipotong pajak final 20% hasil bersihnya 4,4 (Rp4.400.000) — tetap di bawah SBN ritel. Pelajaran pertama: jangan pernah membandingkan angka kotor. Yang masuk ke kantong adalah angka setelah pajak.
Tabel Fitur & Risiko: Beda Selain Angka
Angka hanya setengah cerita. Tiga instrumen ini berbeda jauh di sisi likuiditas, minimum pemesanan, dan jaminan:
| Aspek | SBN Ritel | Deposito bank umum | Deposito bank digital |
|---|---|---|---|
| Minimum | Mulai Rp1.000.000 (periode pemesanan dibuka pemerintah) | Umumnya Rp1–10 juta per pembukaan deposito | Sering kali tanpa minimum / mulai sangat kecil |
| Cair sebelum jatuh tempo | ORI & SR bisa dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo (harga mengikuti pasar); SBR & ST tidak bisa (non-tradable) tetapi tersedia fasilitas early redemption sebagian | Bisa dicairkan lebih awal, biasanya kena penalti bunga | Umumnya fleksibel dicairkan kapan saja via aplikasi |
| Jaminan | Dijamin negara — pokok dan kupon dibayar dari APBN sesuai undang-undang | Dijamin LPS sampai Rp2 miliar per nasabah per bank | Dijamin LPS sampai Rp2 miliar jika bunganya ≤ tingkat penjaminan |
| Kupon/bunga tetap? | Kupon tetap sampai jatuh tempo (fixed rate) | Tetap selama tenor deposito berjalan | Bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti promo/kebijakan bank |
| Risiko utama | Harga pasar sekunder ORI/SR bisa di bawah 100% bila suku bunga naik | Hasil lebih rendah; penalti pencairan dini | Bunga di atas tingkat penjaminan LPS = tidak dijamin LPS |
Catatan soal ORI & SR: karena bisa diperdagangkan di pasar sekunder, nilainya bisa bergerak — kalau kamu butuh uang saat suku bunga sedang naik, harga jualnya bisa sedikit di bawah nilai nominal. Ini bukan kerugian kupon (kupon tetap dibayar penuh), melainkan risiko harga pasar. SBR & ST kebalikannya: tidak bisa diperdagangkan, tetapi ada jendela early redemption sebagian untuk menarik dana darurat tanpa kehilangan semuanya.
Kenapa Pajaknya Beda: 10% vs 20%
Perbedaan pajak ini bukan kebetulan dan bukan kesalahan hitung — ini kebijakan resmi:
- Bunga/kupon SBN dikenai PPh final 10% untuk wajib pajak dalam negeri. Tarif khusus ini memang diberikan negara untuk mendorong partisipasi masyarakat membiayai APBN.
- Bunga deposito bank dikenai PPh final 20% untuk wajib pajak dalam negeri — dua kali lipatnya. Pajak ini dipotong langsung oleh bank saat bunga dibayarkan, jadi kamu tidak perlu melaporkannya lagi sebagai penghasilan terpisah.
Rumusnya sederhana: hasil neto = tarif kotor × (1 − tarif pajak). Untuk SBN: 6,25% × 0,90 = 5,625%. Untuk deposito bank umum: 3,50% × 0,80 = 2,8. Untuk deposito bank digital: 5,50% × 0,80 = 4,4. Tarif pajak ini bersifat final, artinya kewajiban pajaknya selesai di titik pemotongan — tetapi ingat bahwa nilai simpanan/deposito tetap menjadi bagian harta yang dilaporkan di SPT Tahunan.
Jaminan Negara vs LPS — dan Jebakan Tingkat Penjaminan
SBN ritel dijamin negara. Pokok dan kuponnya dibayar dari APBN sesuai undang-undang yang mengaturnya — ini level jaminan tertinggi yang ada di Indonesia. Selama negara membayar utangnya, SBN ritel dibayar.
Deposito dijamin LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sampai Rp2 miliar per nasabah per bank, tetapi dengan syarat yang sering dilewatkan orang: simpanan harus memenuhi kriteria 3T — Tercatat di bank, Tingkat bunga yang diterima tidak melebihi tingkat penjaminan LPS, dan Tidak melakukan tindak pidana yang merugikan bank. Kegagalan memenuhi salah satunya berarti jaminan gugur.
⚠️ Jebakan tingkat penjaminan (baca baik-baik)
Sesuai data referensi duid.tech (terverifikasi 2026-10-28), tingkat penjaminan LPS saat ini adalah 3,75% per tahun. Contoh bunga deposito bank digital di tabel atas adalah 5,50% per tahun — berada DI ATAS tingkat penjaminan, dan kalkulator kami menandainya sebagai tidak memenuhi syarat penjaminan. Artinya: bila bank tersebut gagal (diliquidasi), simpanan yang bunganya di atas 3,75% tidak dijamin LPS. Uangmu tetap tercatat sebagai tagihan ke bank yang dilikuidasi, tetapi pembayaran LPS tidak berlaku untuknya.
Ini bukan alasan untuk panik — bank digital berizin dan diawasi OJK — melainkan trade-off yang harus kamu sadari: bunga ekstra ~1,75% di atas tingkat penjaminan dibayar dengan menukar sebagian perlindungan. Kalau kamu tipe yang tidur tidak nyenyak memikirkan risiko bank gagal, pilihlah produk dengan bunga ≤ 3,75% atau alihkan ke SBN ritel yang dijamin negara.
Praktiknya: sebelum membuka deposito dengan bunga tinggi, cek dulu tingkat penjaminan LPS yang berlaku saat itu (LPS meninjaunya secara berkala). Kalau bunganya di atas angka itu, anggap simpananmu sebagai investasi berisiko ringan — bukan tabungan yang dijamin penuh.
Simulasi 5 Tahun: Rp100,00 juta Jadi Berapa?
Dengan asumsi tarif contoh bertahan dan hasil neto digulirkan (dimajemukkan) setiap tahun — ilustrasi, bukan janji. Perlu dicatat: kalkulator SBN vs deposito kami memakai akumulasi sederhana; tabel ini memakai versi majemuk agar efek bunga-berbunga terlihat:
| Instrumen | Hasil neto/thn | Nilai setelah 5 thn | Keuntungan 5 thn |
|---|---|---|---|
| SBN Ritel (ORI/SR/SBR) | 5,625% | ≈ Rp131.470.000 | ≈ Rp31.470.000 |
| Deposito bank umum | 2,8 | ≈ Rp114.810.000 | ≈ Rp14.810.000 |
| Deposito bank digital | 4,4 | ≈ Rp124.020.000 | ≈ Rp24.020.000 |
Dalam 5 tahun, selisih antara SBN ritel dan deposito bank umum melebar menjadi sekitar Rp16,67 juta dari modal yang sama. Efek bunga-berbunga (compounding) memperbesar setiap perbedaan kecil tarif tahunan — itulah kenapa memilih instrumen dengan selisih 2,8 poin persentase di tahun pertama bukan keputusan sepele. Angka-angka ini memakai tarif contoh 2025–2026 dan asumsi kupon/bunga tidak berubah; di dunia nyata, seri SBN berganti tiap penerbitan dan bunga deposito bergerak mengikuti suku bunga acuan BI.
Coba Hitung Sendiri dengan Angka Kamu
Ganti modal, kupon, dan bunganya dengan angka aktual yang kamu dapat dari bank atau prospektus SBN — hasilnya langsung terlihat bersih setelah pajak:
Butuh hitungan yang lebih spesifik? Buka kalkulator SBN ritel vs deposito untuk perbandingan lengkap, atau kalkulator deposito bersih kalau kamu hanya ingin tahu berapa bunga deposito setelah dipotong pajak 20%.
Kesimpulan: Pilih yang Mana Bila…
🏛️ …kamu mau hasil maksimal + jaminan tertinggi
Pilih SBN ritel (ORI/SR bila butuh fleksibilitas jual di pasar sekunder; SBR/ST bila yakin tidak butuh dana sampai jatuh tempo). Kupon tetap, pajak hanya 10%, dijamin negara. Syaratnya: beli saat periode pemesanan dibuka dan siapkan dana mulai Rp1.000.000.
🏦 …kamu butuh kepastian bank konvensional
Pilih deposito bank umum bila kamu mengutamakan nama besar dan proses yang sudah familiar — terima saja hasilnya paling kecil (neto 2,8 pada contoh ini) dan pastikan tenornya sesuai kebutuhan agar tidak kena penalti pencairan dini. Jaminan LPS berlaku penuh selama bunganya ≤ tingkat penjaminan.
📱 …kamu tergoda bunga bank digital
Sah-sah saja — hasilnya (neto 4,4 pada contoh) memang di atas deposito bank umum. Tetapi cek bunganya terhadap tingkat penjaminan LPS (3,75%): kalau di atasnya, kamu menukar perlindungan LPS dengan bunga ekstra. Pertimbangkan membagi dana: sebagian di produk ≤ tingkat penjaminan, sebagian di SBN ritel.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah SBN ritel benar-benar bebas risiko?
Tidak ada instrumen yang 100% bebas risiko, tetapi SBN ritel punya jaminan pembayaran pokok dan kupon dari negara melalui APBN sesuai undang-undang — level proteksi tertinggi di Indonesia. Risiko yang tersisa adalah risiko harga pasar (untuk ORI/SR yang dijual sebelum jatuh tempo) dan risiko likuiditas masa tunggu (untuk SBR/ST yang non-tradable).
Kenapa pajak SBN 10% sedangkan deposito 20%?
Karena keduanya diatur berbeda: bunga/kupon obligasi (termasuk SBN) dikenai PPh final 10% bagi wajib pajak dalam negeri sebagai insentif partisipasi publik dalam pembiayaan negara, sedangkan bunga deposito/tabungan bank dikenai PPh final 20%. Keduanya dipotong otomatis oleh pembayar — kamu terima bersih.
Deposito saya bunganya 6% — apakah dijamin LPS?
Tidak, bila 6% melebihi tingkat penjaminan LPS yang berlaku (saat ini 3,75%/tahun sesuai data referensi kami, terverifikasi 2026-10-28). Salah satu syarat penjaminan 3T adalah bunga tidak melebihi tingkat penjaminan; bunga 6% menggugurkan syarat itu. Selalu bandingkan bunga penawaranmu dengan tingkat penjaminan terbaru dari LPS sebelum menaruh dana besar.
Bisa beli SBN ritel kapan saja?
Tidak — SBN ritel hanya bisa dibeli pada masa penawaran yang dibuka pemerintah beberapa kali setahun, melalui mitra distribusi resmi (bank, sekuritas, fintech berizin). Di luar masa penawaran, ORI dan SR yang sudah beredar bisa dibeli di pasar sekunder lewat sekuritas, sedangkan SBR/ST tidak bisa. Minimum pemesanan mulai Rp1.000.000.
Disclaimer
Seluruh angka dalam panduan ini adalah estimasi dengan tarif contoh yang beredar pada 2025–2026 (kupon SBN 6,25%, bunga deposito bank umum 3,50%, bunga deposito bank digital 5,50%, tingkat penjaminan LPS 3,75%) untuk tujuan edukasi perbandingan — bukan nasihat keuangan, bukan rekomendasi investasi, dan bukan janji hasil. Tarif aktual berubah mengikuti penerbitan seri SBN, kebijakan suku bunga bank, dan ketentuan LPS/OJK/BI yang berlaku saat kamu membaca ini. duid.tech bukan penasihat keuangan berizin OJK. Selalu verifikasi angka terbaru ke prospektus resmi, bank penerbit, dan situs resmi LPS sebelum memutuskan.