🎉 100% GRATIS SELAMANYA

duid.tech

⚡ JAWABAN CEPAT

Dengan asumsi contoh EV Rp400 juta melawan LCGC Rp180 juta dan jarak 15.000 km per tahun, biaya listrik home charging lima tahun hanya Rp17.553.105 berbanding BBM Rp58.593.750. Namun PKB tahunan EV Rp8.143.000 dan depresiasi 12% per tahun membalikkan hasil: total lima tahun EV Rp262.175.338 versus bensin Rp138.674.076.

Total biaya 5 tahun EV
Rp262.175.338
Total biaya 5 tahun bensin
Rp138.674.076
Biaya listrik home charging 5 tahun
Rp17.553.105

Hitung kasusmu →

Mobil Listrik (EV) vs Mobil Bensin (LCGC/MPV) 5 Tahun: Bedah Total Biaya Listrik Home Charging, Pajak PKB, dan Depresiasi

Terbit 19 Oktober 2026 · Angka dihitung ulang otomatis dari mesin kalkulator & data referensi duid.tech setiap halaman diperbarui.

Ilustrasi mobil listrik dan mobil bensin berdampingan dengan kabel charger dan pompa bensin, melambangkan perbandingan total biaya kepemilikan lima tahun

"Mobil listrik itu murah, ngecas cuma puluhan ribu!" — klaim ini benar, tetapi tidak lengkap. Yang murah adalah biaya per kilometernya. Pertanyaan yang sebenarnya menentukan dompetmu selama lima tahun jauh lebih besar: berapa pajak tahunannya, berapa nilai yang menguap lewat depresiasi, dan berapa modal awal yang harus keluar — termasuk wallbox di garasi rumahmu.

Artikel ini membedahnya apel-ke-apel dengan asumsi contoh yang semuanya berlabel: EV seharga Rp400.000.000 melawan LCGC seharga Rp180.000.000 (contoh harga OTR 2026), jarak tempuh 15.000 km/tahun, horizon 5 tahun. Angka biaya listrik dan pajak dihitung langsung dari mesin formula kalkulator duid.tech — bukan angka ketikan mati. Angka biaya BBM, depresiasi, dan wallbox dihitung dari asumsi di bawah memakai aritmetika sederhana, bukan formula kalkulator — semuanya dilabel sebagai asumsi contoh/ilustrasi.

Asumsi Contoh yang Dipakai (Semua Berlabel)

  • Asumsi contoh: harga OTR 2026 — EV Rp400.000.000, LCGC bensin Rp180.000.000.
  • Asumsi contoh: konsumsi EV 15 kWh/100 km → 2.250,00 kWh/tahun untuk 15.000 km.
  • Asumsi contoh: tarif home charging = golongan rumah tangga non-subsidi 2.200 VA (@ Rp1.444,70/kWh dari formula) + PPJ 8% — cukup untuk charger portabel 2,2 kW.
  • Asumsi ilustrasi: konsumsi LCGC 1:16, harga BBM RON 92 Rp12.500/liter (contoh 2026).
  • Asumsi ilustrasi: PKB memakai contoh tarif DKI Jakarta (progresif 2,00% kepemilikan pertama, tanpa opsen), NJKB disamakan dengan harga OTR — NJKB riil tertera di STNK dan umumnya sedikit di bawah harga OTR.
  • Asumsi ilustrasi: depresiasi saldo menurun — EV 12,00%/tahun, bensin 8,00%/tahun.
  • Asumsi ilustrasi: wallbox home charging Rp15.000.000 satu kali (EV saja).

Tabel 1: Biaya Energi 5 Tahun — Listrik vs BBM

Biaya listrik EV dihitung dari formula mode tagihan: 2.250,00 kWh × Rp1.444,70 + PPJ 8% = Rp3.510.621/tahun. Biaya BBM dari aritmetika asumsi: 937,5 liter/tahun × Rp12.500 = Rp11.718.750/tahun.

Biaya energi EV (listrik) Bensin (BBM)
Konsumsi per tahun 2.250,00 kWh 937,5 liter
Biaya per tahun Rp3.510.621 Rp11.718.750
Biaya per km (dibulatkan) Rp234/km Rp781/km
TOTAL 5 TAHUN Rp17.553.105 Rp58.593.750

Di ronde energi, EV menang telak: Rp234/km melawan Rp781/km — biaya BBM 3,3× lipat lebih mahal per kilometer. Selisih lima tahunnya Rp41.040.645. Inilah angka yang dipakai brosur dan iklan. Sayangnya, energi hanyalah satu dari empat ronde.

Tabel 2: PKB Tahunan dari Formula (Contoh DKI)

PKB tidak peduli mesinmu listrik atau bensin — ia peduli NJKB. Dengan tarif progresif DKI 2,00% untuk kepemilikan pertama (tanpa opsen, karena Jakarta tidak memungutnya), formula pajak kendaraan tahunan kami menghasilkan:

Komponen pajak/tahun EV (NJKB Rp400.000.000) Bensin (NJKB Rp180.000.000)
PKB (2,00% × NJKB) Rp8.000.000 Rp3.600.000
Opsen PKB Rp0 (Jakarta tidak memungut) Rp0 (Jakarta tidak memungut)
SWDKLLJ Rp143.000 Rp143.000
TOTAL PAJAK/TAHUN Rp8.143.000 Rp3.743.000
Total pajak 5 tahun Rp40.715.000 Rp18.715.000

Ronde kedua berbalik: karena NJKB EV 2,2× lipat dari LCGC, pajak tahunannya pun Rp4.400.000 lebih mahal setiap tahun — Rp22.000.000 selama lima tahun. Keunggulan energi EV sebesar Rp41.040.645 langsung tergerus lebih dari separuhnya di ronde pajak saja. Catatan: ini contoh DKI — di provinsi lain ada opsen 66% dari PKB, dan beberapa daerah memberi insentif khusus EV yang tidak tercakup formula ini.

Tabel 3: Total Biaya 5 Tahun — Skor Akhir

Sekarang jumlahkan empat ronde: energi 5 tahun + pajak 5 tahun + depresiasi 5 tahun (saldo menurun: EV 12,00%/thn, bensin 8,00%/thn) + wallbox. Harga beli tidak dijumlahkan lagi — ia sudah tercermin lewat depresiasi (nilai yang menguap).

Pos biaya (5 tahun) EV Bensin
Energi 5 tahun Rp17.553.105 Rp58.593.750
Pajak (PKB + SWDKLLJ) 5 tahun Rp40.715.000 Rp18.715.000
Depresiasi 5 tahun (nilai sisa: Rp211.092.767 vs Rp118.634.674) Rp188.907.233 (47,2%) Rp61.365.326 (34,1%)
Wallbox home charging (satu kali) Rp15.000.000 —
TOTAL 5 TAHUN Rp262.175.338 Rp138.674.076

Skor akhirnya tidak ambigu: bensin menang Rp123.501.262 dalam lima tahun. Tiga penyebabnya semuanya berpangkal pada satu hal — harga beli. Harga EV yang 2,2× lipat membuat PKB-nya lebih mahal Rp22.000.000, depresiasinya lebih dalam Rp127.541.907 (47,2% vs 34,1% dari harga), plus wallbox Rp15.000.000. Keunggulan energi Rp41.040.645 tidak cukup menutup ketiganya.

Tabel 4: Sensitivitas — Bagaimana Jika Jarak Tempuh Dobel?

Keunggulan EV memang membesar seiring kilometer. Bandingkan biaya operasional tahunan (energi + pajak) pada 15.000 km vs 30.000 km per tahun:

Biaya operasional/tahun 15.000 km 30.000 km
EV (listrik + PKB) Rp11.653.621 Rp15.164.242
Bensin (BBM + PKB) Rp15.461.750 Rp27.180.500
Hemat EV per tahun Rp3.808.129 Rp12.016.258

Pada 30.000 km/tahun, EV menghemat Rp12.016.258/tahun — 3,2× lipat dari skenario dasar. Tetapi ingat: penghematan operasional pun harus melawan selisih harga beli + wallbox sebesar Rp235.000.000. Payback kasarnya (tanpa depresiasi) butuh ±925.651 km dalam 5 tahun — jauh di luar jarak tempuh wajar. Kesimpulan sensitifnya: makin jauh kamu menyetir, makin kecil kekalahan EV — tetapi dengan selisih harga 2026 ini, kekalahannya tidak terbalik oleh kilometer.

Yang Tidak Dihitung di Artikel Ini

Agar jujur soal batasnya, empat komponen ini sengaja tidak masuk tabel — bukan karena tidak penting, melainkan karena di luar cakupan formula dan asumsi skenario:

  • Asuransi dan servis rutin — premi EV umumnya lebih mahal (nilai pertanggungan lebih tinggi), tetapi servis EV lebih murah (tanpa oli, busi, dan tune-up). Keduanya bervariasi per merek dan tidak ada formula bakunya di sini.
  • Degradasi baterai & penggantian ban — baterai EV turun kapasitasnya seiring usia; ban EV aus lebih cepat karena bobot dan torsi instan. Dampaknya riil, tetapi angkanya terlalu spekulatif untuk asumsi ilustrasi.
  • Insentif daerah khusus EV — beberapa provinsi/kota memberi keringanan PKB atau pembebasan untuk kendaraan listrik. Formula memakai contoh DKI tanpa insentif; cek Samsat daerahmu.
  • Biaya pendanaan — bila mobilnya dikredit atau leasing, bunga membesar di kedua sisi. EV yang lebih mahal berarti pokok kredit yang lebih besar pula.

🧮 MINI-KALKULATOR: PAJAK KENDARAAN TAHUNAN

Rp400.000.000
2%
Total Pajak Kendaraan Tahunan
Rp8.143.000
PKB
Rp8.000.000
Total pajak tahunan
Rp8.143.000

Buka kalkulator lengkap →

Coba Hitung Sendiri

Punya NJKB dan provinsi yang berbeda? Masukkan angkamu ke kalkulator pajak kendaraan di bawah — ia memakai formula yang sama persis dengan Tabel 2 artikel ini:

Tautan kalkulator terkait: kalkulator tarif listrik PLN (hitung biaya home charging untuk golongan dayamu) · kalkulator pajak kendaraan tahunan (PKB, opsen & SWDKLLJ) · kalkulator kredit kendaraan (bila EV-nya hendak dikredit — ingat, pokok kreditnya lebih besar).

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah pajak tahunan (PKB) mobil listrik lebih murah dari mobil bensin?

Tidak otomatis — PKB mengikuti NJKB × tarif progresif daerah, bukan jenis mesin. Pada skenario artikel ini (contoh DKI Jakarta, kepemilikan pertama, NJKB disamakan dengan harga OTR sebagai ilustrasi), EV Rp400 juta kena PKB Rp8.000.000 + SWDKLLJ Rp143.000 = Rp8.143.000/tahun, sedangkan LCGC Rp180 juta hanya Rp3.600.000 + Rp143.000 = Rp3.743.000/tahun. Selama harga EV jauh di atas mobil bensin, pajaknya ikut lebih mahal — kecuali daerahmu memberi insentif khusus EV, yang perlu dicek di Perda/Samsat setempat karena tidak tercakup formula ini.

Berapa biaya home charging EV per tahun untuk 15.000 km?

Dengan asumsi contoh konsumsi 15 kWh/100 km, 15.000 km/tahun butuh 2.250,00 kWh per tahun. Dari formula tagihan listrik golongan 2.200 VA (@ Rp1.444,70/kWh) + PPJ 8% (Rp260.046), tagihannya Rp3.510.621/tahun — atau sekitar Rp234/km. Bandingkan dengan BBM LCGC 1:16 @ Rp12.500/liter: Rp11.718.750/tahun atau Rp781/km — 3,3× lipat lebih mahal per kilometernya.

Jarak tempuh berapa yang membuat EV balik modal dari bensin dalam 5 tahun?

Dengan asumsi harga contoh ini, praktis tidak terkejar oleh jarak tempuh wajar. EV menghemat biaya operasional (energi + PKB) Rp3.808.129/tahun pada 15.000 km, dan Rp12.016.258/tahun pada 30.000 km. Tetapi selisih harga beli + wallbox saja sudah Rp235.000.000 — payback kasar (tanpa depresiasi) butuh ±925.651 km dalam 5 tahun, atau ±185.000 km/tahun. Yang bisa membalikkan skor: harga EV turun mendekati LCGC, insentif pajak khusus EV di daerahmu, atau harga BBM naik signifikan.

Apakah wallbox Rp15 juta wajib dibeli pemilik EV?

Tidak wajib — Rp15 juta di artikel ini adalah asumsi ilustrasi untuk home charging yang nyaman. Alternatifnya: charger portabel bawaan (colok ke stopkontak 2.200 VA, pengisian jauh lebih lambat), menaikkan daya lalu memakai charger AC 7 kW, atau mengandalkan SPKLU/SPBKLU umum yang tarifnya per kWh biasanya lebih mahal dari listrik rumah. Yang pasti: biaya instalasi, penambahan daya PLN, dan tarif SPKLU tidak tercakup dalam angka artikel ini — masukkan ke hitunganmu bila relevan.

Kesimpulan

Data lima tahunnya tidak ambigu: dengan asumsi contoh ini, LCGC bensin (Rp138.674.076) mengalahkan EV (Rp262.175.338) dengan selisih Rp123.501.262. EV hanya menang di satu ronde — biaya energi Rp234/km melawan Rp781/km — tetapi kalah di tiga ronde lain: pajak tahunan, depresiasi, dan modal wallbox, yang semuanya berpangkal pada harga belinya yang 2,2× lipat.

Pelajaran sebenarnya: jangan membeli EV dengan logika "ngecas murah" — belilah bila total biaya kepemilikannya masuk akal untukmu. EV menjadi pilihan rasional ketika harganya turun mendekati mobil bensin sekelas, ketika daerahmu memberi insentif pajak khusus EV, atau ketika jarak tempuh harianmu sangat tinggi sehingga keunggulan Rp547/km-nya bekerja penuh. Sampai tiga syarat itu terpenuhi, "ngecas murah" adalah kebenaran yang tidak lengkap.

Disclaimer

Seluruh angka biaya listrik dan pajak dalam panduan ini dihitung otomatis dari formula produksi kalkulator tarif listrik PLN dan kalkulator pajak kendaraan tahunan duid.tech untuk tujuan edukasi — bukan nasihat keuangan dan bukan rekomendasi pembelian kendaraan tertentu. Angka biaya BBM, depresiasi, dan wallbox adalah asumsi contoh/ilustrasi berlabel yang dihitung dengan aritmetika sederhana, bukan formula kalkulator dan bukan angka pasar atau hasil survei; biaya riil tiap merek, tiap daerah, dan tiap pola pakai berbeda-beda. PKB memakai contoh tarif DKI Jakarta (progresif 2,00%, tanpa opsen) dengan NJKB disamakan harga OTR sebagai ilustrasi — tarif tiap provinsi berbeda dan beberapa daerah memberi insentif khusus EV. Asuransi, servis, ban, degradasi baterai, biaya pendanaan/kredit, dan biaya penambahan daya PLN tidak termasuk. duid.tech bukan penasihat keuangan berizin OJK.

🔥 Sedang Banyak Dibaca